Investasi Bodong Berkedok MLM Masih Marak, Ini Jawaban APLI

Congresoinfanciaenriesgo – Saat ini, sering terjadi penipuan dengan kedok investasi di masyarakat. Hal ini membuat banyak orang ragu untuk berinvestasi kembali. Keraguan ini belakangan menjadi paranoia yang berlebihan. Bahkan paranoia ini menjalar ke kalangan milenial. Namun, tidak perlu takut untuk mulai berinvestasi. Apalagi bagi kaum milenial yang tertarik di usia muda untuk mencapai kebebasan finansial.

Asosiasi Penjual Langsung Indonesia (APLI) mengaku sampai saat ini masih ada investasi palsu berkedok Multi Level Marketing (MLM), skema piramida (ponzi) untuk money game. Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kerugian masyarakat akibat penipuan investasi dari tahun 1975 hingga Agustus 2016 akibat penipuan investasi ini sebesar Rp. 126,5 triliun. Sementara jumlah pengaduan masyarakat yang sampai saat ini diterima OJK tentang kecurangan investasi sebanyak 2.772 pengaduan.

“Bahkan ada satu perusahaan yang mengelola dana Rp 12 triliun. Kita hanya punya Rp 25 triliun. Jadi bisa dibayangkan berapa banyak uang yang salah urus,” kata Ketua APLI Kany V. Soemantoro dalam Dialog Interaktif “MLM itu Halal atau Haram? “ Dia mengakui bahwa investasi curang dengan kedok MLM, atau investasi curang di bawah piramida dan perjudian, akan terus ada selama keserakahan manusia terus berlanjut.

“Ya enggak dikatakan hilang atau tidak, karena kalau ada orang rakus yang masih kaya pasti kaya. Untung kita sudah dilindungi peraturan, Mendag, apalagi undang-undang baru nomor 7. Tahun 2014 “Orang ngomongin denda, denda. Orang yang bilang (rakus) jalan pintasnya, mereka hanya fokus pada uang,” jelasnya.

Menurutnya, investasi berkedok MLM ini merugikan citra perusahaan MLM yang benar-benar berbisnis sesuai aturan. Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa MLM adalah hasil negatif dari dampak investasi berkedok MLM. “Kerugian? Kami miris namanya sampul MLM, tapi mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa secara finansial. Kami tahu (investasi tidak sah) itu sangat merugikan, jadi Bareskrim saat ini punya undang-undang, jadi kalau melihat indikasi, ya”. Tidak perlu menangkap mereka. Ada korban, ”ujarnya.

Dia mengakui, meski sulit memberantas investasi curang itu, pihaknya bekerja sama dengan berbagai pihak untuk melanjutkan upaya pemberantasan. “Kami sudah banyak kerja sama dengan Bareskrim, biasanya saksi ahli kami apakah tersangka ini menggunakan skema piramida dalam usahanya atau tidak. Tahun lalu kami menjadi anggota Satgas Waspada Investasi OJK dan diundang untuk melakukan edukasi,” ujarnya. kata Kany.

Selain itu APLI memastikan bahwa setiap member tidak menjalankan bisnis MLM dengan pyramids, ponzi dan money games. “Yang pasti, hanya setelah mereka menjadi anggota APLI kami memverifikasi bahwa kami memiliki tim audit verifikasi. Kemudian kami mengaudit kepatuhan setiap tahun, kami mengevaluasi rencana pemasaran dan kode etik tidak sesuai dengan aturan yang ada.” Caranya, kami melatih setiap tiga bulan. Kalau ada laporan (yang melanggar aturan), kami punya tim internal untuk mengecek, ”ucapnya. Skema ponzi dan skema piramida adalah metode investasi palsu yang memberikan keuntungan kepada investor dari uang mereka sendiri atau uang yang dibayarkan oleh investor berikutnya, bukan dari keuntungan yang diperoleh oleh individu atau perusahaan.

Selain itu, fitur skema ponzi dan skema piramida mengutamakan rekrutmen anggota baru dimana anggota lama disubsidi oleh anggota baru hingga akhirnya mencapai level terendah dimana anggota akan mengalami masalah dan akhirnya sistem akan runtuh / berhenti.

Menurut UU No. 7 Tahun 2014, bagi pelaku money game skema piramida / ponzi akan dikenakan sanksi pidana yang berat, dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan / atau denda paling banyak Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar)

Untuk itu pilihlah MLM yang benar seperti Forever Healthy Indonesia